![]() |
Repository
|
Tugas Akhir Mahasiswa
Hasil Penelitian Mahasiswa
Analisis Perilaku Cyberloafing dan Etos Kerja pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Sekretariat DPRD Kabupaten Cirebon
- Kategori : Skripsi
- Penulis : Desty Trysnawati
- Identitas : 210221008 - Ilmu Pemerintahan
- Abstrak :
ABSTRAK Desty Trysnawati NIM (210221008) dengan penelitian berjudul Analisis Perilaku Cyberloafing Dan Etos Kerja Aparatur Sipil Negera (ASN) Di Sekretariat Dprd Kabupaten Cirebon. Dibimbing oleh Pembimbing Utama Drs, H. Subhan.,M.Si dan Pembimbing Pendamping Rochmat Hidayat, S.IP., M.A Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perilaku cyberloafing dan etos kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di Sekretariat DPRD Kabupaten Cirebon. Permasalahan yang diangkat berfokus pada kecenderungan ASN menggunakan akses internet di luar kepentingan pekerjaan selama jam kerja, dan bagaimana etos kerja yang meliputi kedisiplinan, tanggung jawab, dan produktivitas. Subjek dalam penelitian ini adalah 15 orang ASN yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini dikaitkan dengan sub fokus perilaku cyberloafing menurut Ozler dan Polat (2012) menunjukan bahwa : (1) Faktor Individu, cyberloafing muncul karena kebiasaan digital, persepsi permisif, dan kurangnya kesadaran etis. ASN menganggap aktivitas non-kerja (perilaku cyberloafing) sebagai hal biasa. (2) Faktor Organisasi, tidak adanya aturan tertulis dan sistem pengawasan membuat cyberloafing sulit dikendalikan. Sikap atasan yang permisif menambah lemahnya disiplin dan produktivitas pegawai. (3) Faktor Situasional, penempatan ruang kerja yang jauh dari atasan dan minimnya kontrol teknis memberi ruang bebas bagi ASN mengakses internet untuk hal non-kerja. Kemudian, hasil penelitian ini juga dikaitkan dengan sub fokus etos kerja menurut Winardi (dalam Fitriyani, Sundari & Dongoran 2019) menunjukan bahwa : (1) Faktor Kebijakan, ketiadaan kebijakan etika digital membuat ASN bekerja tanpa panduan jelas. Hal ini menyebabkan lemahnya disiplin, tanggung jawab, dan motivasi kerja. (2) Faktor Imbalan, memang semua ada hasil target kinerja ada sistem nya yaitu dengan diberikan gaji dan tunjangan. Permasalahan nya jika pegawai yang rajin maka akan ada diberikan tunjangan lebih tetapi pegawai yang lemah kinerja nya pasti tidak dapat tunjangan tersebut. Maka dari itu tunjangan bisa menjadi kesenjangan karna dinilai tidak merata. Untuk sistem secara non finansial itu juga akan terjadi kesenjangan dan kecemburuan anatar pegawai. Hal tersebut yang membuat pegawai kehilangan motivasi dan mencari hiburan lewat aktivitas digital. (3) Faktor Kultur, budaya kerja yang permisif terhadap perilaku tidak produktif, seperti menunda pekerjaan dan menggunakan internet pribadi, menghambat pembentukan sikap kerja profesional. (4) Faktor Mental, stres beban kerja dan kejenuhan mendorong ASN mencari pelarian ke aktivitas digital. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa cyberloafing menjadi fenomena umum yang terjadi sebagai respons atas tekanan kerja, kejenuhan, kurangnya pengawasan, dan kesenjangan kebijakan. Kata Kunci: Cyberloafing, Etos Kerja, ASN, Sekretariat DPRD Kabupaten Cirebon




